Search

Memuat...

MAIN MENU

Lagu Bugis

Loading...

GITALARA

Salam untuk semua. Silakan telusuri isi blog ini siapa sangka ada yang berguna bagi Anda
INFO TERBARU

Selayang Pandang Kegiatan Prosesi Pernikahan Adat Bangsa Bugis

Setiap suku bangsa di dunia tentu memiliki adat kebiasaan atau tradisi yang menjadi ciri khas daerahnya. Demikian pula Bangsa Bugis khususnya suku Bugis Bone. Berikut ini kami akan paparkan secara lengkap tentang kronologis dan tatabahasa yang sering digunakan oleh bangsa bugis dalam melaksanakan hajatan pernikahan tersebut.
I. MAMMANU'-MANU' = MAPPESE'-PESE' = MAPPAU RI BOKO TANGE' = MABBALAWO CICI = MABBAJA LALENG : Artinya Menjajajki, pendekatan, pembuka jalan, merintis.
II. LETTU' = MASSURO = MADDUTA. Artinya Melamar atau menyampaikan lamaran atau meminang yang dilakukan oleh salah seorang atau masing-masing duta dari kedua belah pihak untuk berdialog dan waktu melamar belum melibatkan banyak orang. Biasanya paling banyak 3-5 orang dari masing-masing pihak termasuk kedua duta.
III. MAPPASIAREKENG. Artinya mengukuhkan kembali apa yang telah disepakati oleh kedua duta yang dihadiri oleh sespuh dari masing-masing pihak. dalam pelaksanaannya belum melibatkan banyak orang, yaitu cukup kedua duta bersama sesepuh dari masing-masing pihak. Pada waktu inilah ditentukan pelaksanaan Mappettu Ada yang artinya mengambil keputusan, kapan dilaksanakan acara Mappettu Ada. Setelah sudah ada kesepakatan penentuan waktunya barulah dilaksanakan.
IV.. MAPPETTU ADA. Artinya mengambil keputusan bersama segala sesuatunya yang akan dilaksanakan, termasuk kesepakatan duta terdahulu dan selanjutnya kesepakatan waktu itu mengenai :
1. SOMPA atau SUNRANG yaitu Mahar atau mas kawin, sebagai hukum syariah.
2. DOI MENRE' = BALANCA.Artinya Uang naik, sebagi hukum adat.
3. LEKO' atau ALU' = KALU = ERANG-ERANG = TIWI-TIWI. Artinya bawaan atau seserahan. dalam bahasa Bugis Bone disebut " Passuro' atau Mita " yang diantar sewaktu hari pelaksanaan akad nikah.
4. ACCATAKENG. Artinya biaya pencatatan pada penghulu.
5. PAKEANG BOTTING. Artinya busana pengantin yang akan disepakati.
6. TONANGENNA. Artinya kendaraan yang dibutuhkan dari kedua belah pihak.
7. Pelaksanaan hari " H " seperti :
a. Mappapenning atau Mappaenre' Botting. Artinya mengantar calon pengantin laki-laki ke rumah calon pengantin perempuan untuk melaksanakan akad nikah.
b. Akkalabinengenna. Artinya akad nikah
c. Mapparola. Artinya  sesudah akad nikah, pengantin perempuan bersama pengantin laki-laki diantar kerumah pengantin laki-laki.
d. Aggaukeng. Artinya pelaksanaan pesta atau resepsi dari kedua belah pihak.
V. Kegiatan selanjutnya dari masing-masing pihak sesuai kemampuan misalnya :
1. MASSARAPO=MABBARUGA. Artinya tempat pelaksanaan pesta disiapkan.
2. MAPPALETTU' SELLENG = MATTAMPA. Artinya menyampaikan undangan kepada handai tolan dan kerabat lainnya.
3. Kedua calon pengantin sangat dibatasi lingkup geraknya demi menghindari hal-hal yang tidak diharapkan. dalam istilah bahasa Bugis Bone disebut " RAPO-RAPONNA'
4. Khusus calon penganti perempuan disebut " RIPALLEKKE "atau " RIPASSOBBU". Artinya " dipingit' ditempatkan pada suatu kamar khusus. nanti muncul setelah 5 atau 3 hari sebelum akad nikah.
5. Selama dipingit sampai hari pelaksanaan nikah, banyak acara ritual yang masing-masing punya makna atau simbol, dalam bahasa Arab disebut TAFAUL dan dalam bahasa Bugis disebut SENNU-SENNUANG atau SENNU-SENNURENG. antara lain :
a. Mabbedda' Bolong. Artinya memakai bedak hitam dari beras yang sudah disangrai atau digoreng sampai hangus tanpa minyak yang ditumbuk bersama bangle sampai halus. Untuk pemakainannya dicampur dengar jeruk nipis, baru dioleskan kebagian anggota tubuh utamanya wajah, lengan, kaki, dan lainnya, dibiarkan sampai kering dan lengket betul. Hal ini persiapan untuk mandi sebagai "Lulur".
b. Ripasau. Artinya mandi uap.
c. Cemme Passili. artinya mandi tolak bala (cemme tula' bala).
d. Macceko. Artinya membuka atau mencukur bulu-bulu halus pada bagian tertentu, untuk memuluskan kulit utamanya wajah sebelum acara Tudang Penni artinya Malam Pacar.
e. Tudang Penni atau malam Pacar pada umumnya dilaksanakan seperti : khatam Al-Quran, Barzanji, Mappacci dan kegiatan lainnya sampai pagi. Kegiatan ini persiapan untuk menunggu calon pengantin pria dalam pelaksanaan akad nikah esok harinya.
VI. Pelaksanaan akad nikah dalam bahasa Bugis "Akkalibinengeng atau "Appasialang", sebagai acara puncak yang sakral, dengan resminya menjadi pasangan suami isteri. sebelum acara akad nikah dan sesudahnya, masih banyak acara yang perlu dilaksanakan dari kedua belah pihak, seperti : 
1. Pihak perempuan lebih awal mempersiapkan segala sesuatunya menunggu kedatangan rombongan dari pihak laki-laki dalam bahasa BUgis disebut " Madduppa Botting "
2. Pihak laki-laki juga demikian halnya, untuk menuju kediaman calon pengantin perempuan lengkap dengan bawaannya yang disebut Leko' serta walasuji dan maharnya diantar oleh sanak saudara, handai tolan, kerabat keluarga bahkan pinisepuh/sesepuh. Rombongan tersebut  dalam bahasa Bugis disebut " Pampawa Botting atau Pappapenning " 
3. Sesudah pelaksanaan akad nikah ada pula acara yang disebut " Mappasiluka atau Mappasikarawa " artinya membatalkan wudhu yakni pengantin pria menuju kamar pengantin wanita (isterinya) untuk bersalaman sebagai pertanda sudah sahnya sebagai suami isteri. Pada saat inilah"Inang Botting " dari pihak perempuan dan " Amang Botting " dari pihak laki-laki menggunakan baca-bacanya atau mantra, artinya ilmu agar pasangan ini dapat menjadi pasangan yang sakinah, mawaddah, warohmah.
4. Sesudah acara tersebut keluar dari kamar untuk menemui orang tua / pinisepuh untuk menyampaikan permohonan maafnya, memohon doa restunya agar segala kesalahan, dosa, dan kedurhakaannya dimaafkan agar mereka dapat hidup bahagia, sejahtera, aman, dan damai dunia akhirat. Dalam bahasa Bugis disebut " MELLAU ADDAMPENG " dalam bahasa Jawa "Sungkeman"
5. Sesudah acara tersebut, keduanya diantar menuju baruga untuk duduk bersanding di atas pelaminan yang disaksikan para tamu undangan yang hadir.
6. Setelah rombongan atau pengantar pengantin pria sudah pulang, maka dari pihak wanita mempersiapkan rombongannya untuk mengantar pengantin wanita bersama pengantin pria. sebagai umpan balik sekaligus pengantin wanita menemui mertuanya/pinisepuh. Kegiatan ini disebut "MAPPAROLA' sekaligus "MAMMATOWA" dalam bahasa Bugis. Kegiatan ini dapat dilakukan apabila jarak tempat keduanya berdekatan karena acara pesta atau Aggaukeng dari pihak perempuan dilaksanakan pada malam harinya (pada hari tersebut). Adapun kalau tempat berjauhan maka pada hari itu belum dilaksanakan acara Mapparola, nanti esok harinya dilaksanakan, maka acara ini disebut 'MAROLA MABBENNI'untuk pertama kalinya.
7. Waktu pelaksanaan Marola, maka acara pesta dari pihak pria baru dilaksanakan.
8. Setelah keduanya telah melaksanakan pesta, maka pasangan suami isteri ini dapat dikatakan mandiri.Dalam bahasa Bugis disebut "NALAOWWANNI ALENA". Namun masih ada kegiatan-kegiatan yang perlu dilalui seperti :
a.Marola Wekkadua. Artinya pengantin perempuan diantar oleh dua atau tiga orang perempuan untuk bersama-sama ke rumah pengantin laki-laki dengan pakaian biasa dan bermalam satu malam. Pada subuh harinya, pengantin bersama pengantarnya kembali sesudah sarapan. Maka pada saat itu mertua pengantin wanita memberikan hadiah kepada menantunya.
b.Ada pula yang disebut acara "MAPPITU" dari pihak laki-laki, yaitu tujuh orang wanita tua berbaju Ponco' atau 'Baju Tokko' dalam bahasa Bugis dan dalam bahasa Makassar disebut 'Baju Bodo' bersama tiga orang tua lainnya, datang ke rumah pengantin wanita dengan membawa kue-kue adat seperti : Dodoro', Baje, Beppa pute, Beppa laiyya, Cucuru' Tenne, dan lain-lain. Kedatangan tersebut dimaksudkan silaturahim dalam membina kerukunan keluarga yang dalam bahasa Bugis disebut "MASSITA BAISENG".
c.Mabbarazanji yang dimulai keluarga wanita kemudian disusul oleh keluarga pihak pria. Ini sebagai pertanda rasa syukur atas terlaksananya apa yang diharapkan. Pada acara ini, pengantin bisa bermalam bisa juga tidak. Dan pada saat itu pula dilaksanakan suatu kegiatan yang lazim disebut "MALLUKA SARAPO".
d.Poleang Punge'. Artinya setelah acara Mabbarazanji dilaksanakan, maka subuh esok harinya, pengantin pria kembali ke rumahnya untuk mengambil seperti : Gula Merah (manis), Kelapa (gurih), dan Telur (bulat/menyatu).Hal ini dimaksudkan sebagai simbol atau tafaul atau Sennu-sennuang. Agar semoga kehidupannya kelak serba berkecukupan, yang dalam bahasa Bugis mengatakan TENNAPODO MACENNING MALUNRA'ATUWONG-TUWONG LINONA" dan senantiasa menyatu. barang tersebut diteruskan ke pangkuan sang isteri sebagai Penghasilan pertama dari Suami (Poleang Punge') dan langsung disimpan oleh sang isteri.
e.Selanjutnya Ziarah kubur dan mandi-mandi.

Demikian rangkaian pokok dalam prosesi pernikahan Bangsa Bugis. Selanjutnya kami akan paparkan tatabahasa atau ungkapan dalam bahasa Bugis pada waktu melamar dari pihak laki-laki dan ungkapan dari pihak perempuan.

DARI PIHAK LAKI-LAKI

AS.AL.WB. Bismillahirrahmanirrahim

I. Alhamdulillahi Rabbil Alamin ....  SININNA TO MALEBBIKI IYYA KIALEBBIRIE NENNIYA KITANREREANGNGE ALEBBIRENNA. NAIYYA RIOLO PAPPUJI NENNIYA BERESELLENG, RIPATARAKKAI TANRA ASUKKURUKENG TENGRIGANGKATA LAO RISESE ARAJANNA PUAWANGSEUWWAE, NENNIYA TENRIALLUPAI MASSALAWA ENRENGNGE MAPPASSALAMA MASSE' MANNENNUNGENG LAO RI NABITTA MUHAMMAD SAW
    NAMUKA ELO ULLE' SIMATANA PUANGMARAJAE NAWEREKKI KUAROMAI AJJAPPA-JAPPANG, APAINRINGENG KUWAETTOPA ASAGENANG, NATOPADA ENGKA SITUJU RUPA, SIWOLLONG-POLLONG, SIPAKARIO SIPAKARENNU SIRAGA-RAGA, RI JIJI TUDANG PANGADERENG RILANGKANA COKKONGENNA TOMALEBBIKKI ............SILISE BOLA (..... adalah Nama Tuan Rumah Pihak Perempuan).
   NARIMUNRINNA RITU TAPARAIJAYYANGNGA ADDAMPENG, KUPAPPOLO ADDAWA-DAWANG BICARA, KUPABBARI ADA PAPPAKARAJA LAO RIOLO ALEBBIRETTA. IKKENG MAI WAWANG ENGKA POLE RI TANA MASE-MASENA TANAE RI ........... TARAKKA MABBAKKASANG POLE RI BOLA ATUDANGENNA ............( Nama Tuan rumah dari pihak laki-laki).
   TUTTUNG SALOMPE UDDANI, MATTEKKA RI SEPE'-SEPE' MENASA, MOLA LETENG PADDENNUANG, MAKKATENNING RI WELARENG TEPPETTU', MADDAMPE MASSENGE' TEMMAGGANGKA RI TANA ASALAMAKENNA TANAE KU RINI. NATOPADA ENGKA LETTU TESSANGKALANGENG, MALLABU SENGERENG RI SUMPANG MENANGA PANGADERENNA TO MALEBBIKKI ......... (adalah nama Tuan Rumah pihak perempuan).
 NARIPATIJJANG RI LANGKANA, TUPPU BARINGENG AJUARA LANGI, MAJJULEKKA RIAPPANG-APPANG, NARIPADDIRAE COKKONG RI TAPPERE MARUDDANI, NATOSSANRE RI RENRING LETTU'.
     PALETTUI SELLENG PAPPAKARAJANA .......... SILISE, LAO RITOMALEBBIKKI .........SILISE'.
   SELLENG PAPPAKARAJA TAMPU' AKKATTA MARAJA, MARILALENG TEMMAGGANGKA. MENASA KUAROMAI PEMAGGA' MADECENGNGI RIKALAWING ATI ENGAKAERITU NABBULO SIPEPPAKI DUTA PADA DUTA, IYYA NADDIOLOIYYE PESE'-PESE'NALUTTURENGNGE MANU'-MANU' PARUKKUSENG, MAPPAU RI BOKO TANGE' SIARE'E ESSO LABE'E
   NAJAJINA SIPAKKENNU'-KENNU' ININNAWA, SIPATTEPUI TAMPU KALAWING ATI, SIPADDEWENGNGI CINNA LAHERENG AKKATTA.
   NAORI-ORI ADA, NALAKKE-LAKKE BICARA, NASSAMAENGNGIE PANGELORENG DUTA PADA DUTA, ALENA TOMALEBBIKKENG ....................SIBAWA .............TOMALEBBIKKENG ...............
   MAMMENASAI KOROMAI MAPPAKKALEPU RIBILANG CUMPALING, MAPPAGGENNE RISUKE TEMMANRAPI, MAPPASEDDI PARUKKUSENG, MAPPASISOMPUNG WELARENG,    MAPPABBATANG BELOJAJARENG NENNIYA MAPPALLEBBA TEDDUNG PATTEPPANGENG.
   (bersambung .....)


Embun Sari

Bangsa Bugis bukanlah kategori kaum tak pandai mengucapkan apresiasi atas sesuatu yang dianggapnya sangat bermamfaat dan berguna baik dari kaumnya sendiri maupun dari kaum lain. Bentuk apresiasi itu ada berupa cindera mata atau dengan ungkapan-ungkapan sebagai simbol. Dikalangan Bugis biasanya hasta karya Bugis itu sendiri. Misalnya Lipa' Sabbe,  Songko To Bone  atau jenis karya yang dianggap mewakili daerahnya.
Seperti halnya orang  yang mengapresiasi terhadap  perjuangan seseorang tapi tak dapat memberi apa-apa selain ungkapan dalam bentuk bahasa puitis.

Setumpuk gerah bersemayam dalam pikiranmu
Terbiarkan diam  dalam sejuta rantai yang menggigit
Gugusan  embun ingin menawarkan jasa-jasa  sejuknya
Lama terpasung dalam salju kehangatan sukmamu
Untuk menebar harum di sudut-sudut jalan berbatu
Biarkan tercipta sejuta makna dalam semangat

Belenggu kini telah terkuak menepis keangkuhan masa
Pintumu kini telah terbuka menutup bimbang dan keraguan
Begitu mulianya engkau sejuta maaf lahir di bibirmu
Ketika jiwa dan ragamu mengucapkan pesan  bertuah
Kerikil-kerikil tajam menyebar dan menepi memberimu salam
Menyambut hari esok dan pengabdianmu

Di bumi leluhurmu tempatmu berpijak
Pusaka tanahmu untuk mencari rejeki ilahi
Kau sebar butir-butir embun sejuta harapan
Menyiram  semangat berlapis baja
Pohon-pohon rindu tumbuh betabur sari
Mengukir sejarah hidup pengabdianmu

Hakikat jiwamu kau tumpahkan untuk leluhurmu
Tak kenal masa  tak kenal menyerah
Embun dan sari menyebarkan sejuk harum
Menyebar  pesona di  kampung halaman
Jiwaraga dan pengorbananmu tak sia-sia
Titah Ilahi menempatkan dirimu di langit ketujuh
Memang pantas engkau sandang

Tanah Bugis 11/06/2010
By : gitalara

Teluk Bone

Tahun-tahun berkelebat menuju peluk masa depan
Meninggalkan dirimu sendiri mengayuh kesunyian
Memecah batu kegelapan merawat risalah tak terbaca

Di bahumu, perahu-perahu tua menitipkan nelayan
Mengangsur umur di dasar palung

Tahun-tahun berkelebat membawaku kembali ke sini
Senyummu masih saja sunyi menatap tiang-tiang melapuk
Napasmu sesak bersitegang dengan aroma sampah
Sementara riuh kota kian mesra di pelukan permadani
Seolah tak ada waktu mengenang keringat masa kelahiran
Seperti saudara tiri yang lupa pada rahim kandung

Bocah-bocah pemburu kepiting telah pergi
Entah ke mana belajar menulis mimpi
Lupakan jejak-jejak kaki di sepanjang garis pantai
Hingga tahun-tahun yang berkelebat
Kelak membawanya kembali ke sini

Di sini, di Teluk Bone
Kutatap getir sejarah nenek moyang
Dengan dada kosong
(3 des 2008)

Balada Arung Palakka

Satu bayi suci memberontak
Melepaskan diri dari dekapan
Rahim suci bunda
Bersamaan guntur menggelegar
Merobek sunyi di keheningan langit
Bayi sucimenalap dunia
Menerima kejadian – kejadian datang
Mendengar desing – desing huru
Arung palakka ... Arung Palakka... Arung Palakka
Laki – laki batu berdarah semberani
Jiwamu memberontak
Pikiranmu mau memberontak
Merontak...merontak... merontak
Panglima melampe'e gemme'na
Berhati rajawali
Pemberontakanmu , perlawananmu
Membawa kemuliaan batin
Bagi umat Tana Bone
Bimbinganmu keperdamaian
Arung Palakka...Arung Palakka...Arung Palakka
Laki laki malampe’e gemme’ na
Berdarah bangsawan
Penberontakanmu , pahlawanmu
Menjadi merah
Merah...merah...merah kotor
Bagi sejarah bangsa lain
Namun tuhanmu di arasi
Lebih mengetahui hakikat
Jiwa dan perasaanmu
Juga baktimu ....

By gitalara

Benang Sari

Nafas angin membawa sarimu terbawa ke pojok tanah
Benangmu kemilau jatuh melilit hati yang luka
Ku tak kuasa menahan haru
Karena rindu yang Engkau kirim
Walau terbungkus bayangan semata
Tapi Engkau relakan sarimu terenggut jiwa lain
Namun, hakikatnya ku tak rela Anggrekku tersentuh
Apa daya ku ...

Kuasa tak mampu menahan desah yang Engkau kirim
Ragaku yang rapuh, kembali bangkit dari belaian mimpi
Jiwaku bertahun lelah, hilangkan senyum getir kehidupan
Kutatap dan Kuraih bayangmu karena Engkau menebar sari
Benang rindumu kurengkuh terkenang-kenang
Kan kubawa mati . . . ya allah Mengapa dadaku mesti bergetar
Bila menyebut namamu
sedang Engkau dilahirkan bukanlah untukku ...
Namun ku tak mau peduli
Biarkan kucumbui bayangmu
Dan kusandarkan harapanku

Hm . . . dirimu ada di langit ketujuh
Benang emasmu mengikat cinta tak tergapai
Sari manismu menebar kasih penuh makna
Namun … jiwaragaku hanya kuasa menerawang
Menatap indahmu terjamah oleh waktu
Karena aku ada di langit yang paling bawah
Kumohon dan ijinkanlah walau sedetik jua
Benang sarimu kan kubawa pergi
Kan kudekap hingga nafasku tak bergerak lagi

Tanah Bugis, 13-11-09
by Gitalara

Terpopuler